walaupun hari ibu sudah berlalu beberapa hari yl , tapi hari-hari nya selalu dinantikan oleh anaknya… bagaimanapun ibu atau ummi atau bunda adalah madrasah bagi anak-anaknya
teringat bait terakhir lirik lagu Melly Guslow ttg “Bunda”
“ooh Bunda ada dan tiada kau selalu ada di dalam hatiku…”
الأُمُّ مَدرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا Ibu itu bagaikan sekolah, jika engkau mempersiapkannya
أَعْدَدْتَ شَعْبًاطَيِّبَ الأَعْرَاقِ Berarti engkau mempersiapkan rakyat yang baik akhlaknya
الأُمُّ رَوْضٌ إِنْ تَعَهَّدَهُ السُّقَاةُ Ilmu itu bagaikan kebun, jika engkau rawat sifat malu
بِالرَّيِّ أَوْرَقَ أَيُّمَا إِيْرَاقِ Dengan selalu disirami akan menumbuhkan daun segar tak layu
الأُمُّ أُسْتَاذُ الأَسَاتِذَةِ الأُوْلَى Ibu sangat mulia bagaikan gurunya para guru
شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ عَلَى الآفَاقِ Pengaruhnya menembus segala penjuru
Ustadz Fariq menulis sebuah buku berjudul 29 Pelajaran dari Kisah Da’i Cilik. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari buku ini terutama bagi para orangtua serta kepala keluarga yang menginginkan tegaknya Tarbiyyah dan Tashfiyyah di rumahnya.
Satu hal yang patut kami sadari bahwa menanamkan tauhid kepada anak-anak butuh perjuangan yang tidak ringan. Kami merasa kagum dengan pola Tarbiyyah orangtua Ahmad yang dapat mencetak mindset tauhid kepada Ahmad. Ketika Ahmad ditanya oleh Ustadz Fariq: Apa yang melatarbelakangi anda untuk berkhidmah di Islamic Center, maka Ahmad yang waktu itu berusia 12 tahun dengan spontan menjawab “Al Ajr indallah ( mengharap balasan dari Allah).” Kami anggap jawaban yang luar biasa karena biasanya anak-anak seusia Ahmad jika ditanya dengan pertanyaan demikian akan menjawab “Karena Abi dan Ummi yang suruh” walaupun jawaban ini tidak salah namun jawaban Ahmad termasuk sangat luar biasa. Masya Allah.
Jawaban Ahmad dijadikan pelajaran pertama yakni ikhlas atau tauhid dalam buku tersebut. Pelajaran terakhir, pelajaran ke 29, ditutup oleh Ustadz Fariq dengan sebuah kesimpulan bahwa betapa pengaruh ibu yang dikatakan Madrosah sangatlah besar dalam pembentukan karakter anak. Mudah-mudah artikel ini dapat menjadi “material yang istimewa” bagi upaya salafiyyun “membangun Madrosah Salafiyyah” di rumah kita. Tulisan ini kami peruntukkan untuk kami dan kaum muslimin. Semoga bermanfaat. Amin
Berkata Ustadz Fariq
Pengaruh Ibu dalam Pendidikan Anak
Ketika saya menceritakan kisah Ahmad kepada teman-teman di Indonesia, banyak di antara mereka yang bersimpulan bahwa orantuanya pandai dalam mendidik anak, terutama ibunya. Sesungguhnya kedua orangtua memiliki peranan yang penting dalam pendidikan anak. Ayah sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Ibu memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak. Seorang ibu sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak.
Doktor Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqaddam berkata, “Jika engkau buka lembaran sejarah Islam, hampir tidak engkau dapatkan orang besar yang membuat kaum kafir tunduk dan terhina kecuali orang besar itu adalah celupan dari ibu yang agung.”
Zubair bin Awwam seorang pahlawan Islam telah dididik oleh ibunya Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun tumbuh dewasa, berperangai dan berakhlak dengan akhlak ibunya.
Abdullah, Mundzir dan Urwah anak-anak Zuhair, mereka juga adalah buah dari didikan ibu mereka Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhuma, Umar bin Abdul Aziz khalifah yang adil, ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar ibnul Khaththab, Nenek Umar bin Abdul Aziz dijadikan menantu oleh Khalifah Umar ibnul Khaththab karena kejujurannya (telah menasehati ibunya agar jangan mencampur susu dengan air).
Amirul Mukminin Abdurrahman An-Nashir seorang tokoh penguasa Bani Umayyah di Andalusia, Spanyol, ayahnya mati terbunuh ketika ia berumur 21 hari. Ia dididik oleh ibunya yang merupakan rahasia kesempurnaan kepribadiannya.
Ada lagi Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah, imam ahli hadits yang juga buah didikan dari ibu yang shalihah. Ibunya bekerja supaya anaknya bisa konsentrasi belajar. Imam Ahmad berkata bahwa Ummu Sufyan berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jika kamu menulis sepuluh huruf maka lihatlah, apakah menurut kamu pada dirimu bertambah rasa takut dan sopan santunmu? Jika tidak bertambah maka ilmu yang kamu dapatkan itu merugikanmu dan tidak memberimu manfaat.” [Disarikan dari Audatul Hijaab, juz 2, hal. 199-230] (catatan redaksi: Ibunya Imam Sufyan Ats Tsauri menekankan pentingnya amal yang hal tersebut dapat dilihat dari adab anaknya. Maka ibu yang bijak adalah ibu yang memperhatikan adab dan akhlak.Wallahu a’lam)
Seorang ibu muslimah mengetahui bahwa memberikan perhatian serius dalam urusan rumahnya merupakan sarana agung dalam upaya memperbaiki masyarakat. Ibarat batu bata untuk membangun sebuah rumah. Dia bersungguh-sungguh dalam membina anak-anaknya, sehingga lahirlah generasi yang saleh, konsisten dengan hukum-hukum Allah dan tegar menghadapi musuh-musuh Allah.
Ibu muslimah tidak keluar dari rumahnya kecuali karena terpaksa. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bergaul dengan buah hatinya, memenuhi segala kebutuhan lahir batin mereka, Ia pun tahun bahwa tugasnya dalam mendidik anak lebih besar dari seorang ayah.
Ibu muslimah sadar akan tanggung jawab mengurus rumah. Sebagaimana seorang ayah akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat, begitupula seorang ibu. Ia akan diminta pertanggungjawabannya atas amanat yang dititipkan di atas pundaknya, berupa pendidikan terhadap anak-anak, kehormatan diri, harta suami dan lainnya.
Ibu muslimah adalah harapan untuk menyelamatkan umat dengan mendidik anak-anaknya agar memahami dan mengamalkan ajaran Islam sejak kecil. Mendidik mereka untuk melakukan pengorbanan di jalan Allah. Dia pun menyadari akibat keteledorannya dalam mendidik anak-anak untuk berada di atas akidah yang benar, akan menjadikan umat terhina, setelah sebelumnya hidup dalam kemuliaan dan kejayaan, kejayaan dapat diperoleh dengan izin Allah jika umat Islam kembali ke agamanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ البَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاَّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إلَى دِيْنِكُم
“Jika kalian berjaul beli dengan ‘inah (salah satu bentuk riba), memegang ekor sapi dan puas dengan sawah ladang (maksudnya tenggelam dalam cinta dunia) dan meninggalkan jihad maka Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, Ia tidak akan mencabut kehinaan (dari kalian) sampai kalian kembali ke agama kalian.” [HR. Abu Daud dan dimuat oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah, no.11]
Semoga Allah segera mencabut kehinaan dari umat Islam dan memberi hidayah kepada kita semua agar dapat kembali berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafushshaleh. Memberi hidayah kepada kita sebagai orang tua agar dapat mendidik anak-anak dengan pendidikan yang diridhai Allah. Juga agar Allah memberi hidayah kepada anak-anak kita agar menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orangtua dan menjadi pembela agama-Nya, Amin.